Biografi KH. Hasyim Asy'ari Pendiri NU

Rouf Creative | Creative Graphic Design

KH. Hasyim Asy'ari

Biografi KH. Hasyim Asy'ari

Biografi KH. Hasyim Asy'ari Pendiri NU - Salah satu pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan juga seorang Pahlawan Nasional Indonesia, yakni Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari lahir pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H. bertepatan tanggal 10 April 1875 M. di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kyai Asyari dan Ibunya Nyai Halimah.

Dari ibu Halimah, Mbah Hasyim Asy'ari memiliki silsilah garis keturunan yang sampai pada Pangeran Benowo, Sultan Pajang Jaka Tingkir atau Mas Karebet dan juga Brawijaya V atau Lembu Peteng, Raja Majapahit.

Hadratus Syaikh menikah tujuh kali, diantara empat istri beliau bernama Nyai Nafiqoh, Nyai Khadijah, Nyai Nafisah dan Nyai Masruroh. Salah satu putra beliau bernama KH. Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI. Gusdur atau KH. Abdurrahman Wahid yang juga Presiden ke-4 Republik Indonesia adalah cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

KH Hasyim Asy’ari adalah Putra ketiga dari sepuluh bersaudara, sejak kecil hingga berusia 14 tahun, dididik oleh Kyai Asy'ari (ayah) dan Kyai Utsman (kakek). Ia merupakan sosok yang giat dan rajin dalam belajar. Karena kepandaiannya, ia dipercaya ayahnya untuk mengajar di Ponpes. Selain mengajarkan tentang keagamaan beliau juga mengajari santri-santrinya tentang pengetahuan lain seperti membaca dan menulis huruf latin, berorganisasi, dan berpidato. 

KH. Hasyim Asy'ari Belajar Ilmu Agama

Dengan tekad yang kuat dan semangat dalam menuntut ilmu agama, KH Hasyim Asy’ari belajar ke berbagai pesantren dipulau jawa. Diantaranya ponpes Wonokoyo di Probolinggo, ponpes Langitan di Tuban, ponpes Trenggilis di Semarang, berguru pada Kyai Yakub Pesantren Siwalan di Sidoarjo dan lain sebagainya. 

Mbah Hasyim Asy’ari menunaikan rukun islam ke lima (haji) sekaligus memperdalam ilmu hadist di Mekah pada tahun 1892 . Beliau berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Berbagai macam ilmu telah ia pelajari. Selain belajar ilmu fiqih madzhab Imam Syafi'i, Tassawuf, Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, K.H. Hasjim Asy'ari juga belajar ilmu Hadist Sahih Bukhari pada Ahli Hadist yaitu Syaikh Mafudz dari Termas  Pacitan, ulama dari Indonesia pertama yang mengajar di Kota Makkah. Tidak hanya itu, K.H. Hasjim Asy'ari juga memperdalam ilmu falak (astronomi), ilmu hisab, aljabar dan Tafsir Al-manar karya Muhammad Abduh yang rasionalis.

KH. Hasyim Asy'ari Mendirikan Ponpes Tebuireng

Sewaktu perjalanan dari makkah untuk kembali ke Indonesia, Hasyim Asy’ari sempat singgah dan menetap di Malaysia dan mengamalkan ilmunya. Baru pada Tahun 1899 mbah Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air, kemudian memprakarsai berdirinya ponpes di Tebuireng kemudian hari menjadi pusat ajaran ilmu agama Islam tradisional di pulau Jawa pada abad 20. 

Perjuangan mbah Hasyim Asy’ari tak pernah surut, meskipun banyak rintangan. Keberhasilan para santri Tebuireng dalam menyebarkan ilmu di berbagai pelosok daerah di tanah air menjadikan tebu ireng menjadi semakin masyhur.

KH. Hasyim Asy'ari Pendiri Ormas Nahdlatul Ulama

Bersama KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan para tokoh Islam tradisional lain, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama, di kota Surabaya tepatnya 31 Januari 1926 M. / 16 Rajab 1344 H. Pada awal berdirinya NU KH. Hasyim Asy'ari diamanahi sebagai Rois Aam atau Pemimpin Tertinggi. Perkembangan NU semakin pesat dan pengaruh mbah Hasyim Asy’ari semakin besar.

Terbukti adanya dukungan para ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nahdlatul Ulama menjadi organisasi penyalur pengembangan Islam di nusantara baik di desa-desa maupun di perkotaan. Sikapnya yang toleran terhadap mazhab lain membuat mbah Hasyim amatlah disegani baik kawan maupun lawan. Beliau menjunjung tinggi persatuan umat Islam. 

Perjuangan KH. Hasyim Asy'ari Melawan Penjajah
Perjuangan KH. Hasyim Asy'ari Melawan Penjajah

Perjuangan KH. Hasyim Asy'ari Melawan Penjajah

Dengan kemasyhuran dan pengaruh beliau yang besar membuat pemerintahan belanda merasa tidak nyaman. Beliau ditawari Kerjasama, pangkat dan gaji yang tinggi oleh Pemerintah Belanda namun beliau menolaknya. 

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, KH Hasyim Asy’ari semapat dipenjara dan disiksa. Namun KH Wahid Hasyim berhasil membebaskannya. 

Indonesia merdeka, melalui aksi podiumnya KH. Hasyim Asy’ari mengobarkan semangat pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebelum terjadinya pertempuran 10 November 1945 di kota Surabaya, Beliau Hadharatus syekh KH. M. Hasyim Asy’ari telah mengeluarkan fatwa, khususnya kepada kaum santri untuk berjihad melawan agresi militer sekutu yang dikenal sebagai “Resolusi Jihad” tanggal 22 Oktober 1945. 

Resousi Jihad merupakan tuntutan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan meminta pemerintah Indonesia agar secepatnya mendeklarasikan Perang jihad. Nahdlatul Ulama secara tegas menyatakan Belanda dan Jepang bukanlah pemegang kekusaan sah. 

Belanda yang mendompleng kekuatan tentara sekutu dianggap sebagai agresi menentang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia. Oleh karena itu, NU dengan lantang menolak dan berjihad mengusir tentara sekutu dari bumi pertiwi. 

Peristiwa bersejarah inilah yang kemudian menjadi tonggak dasar lahirnya Hari santri Nasional yang diperingati pada setiap tanggal 22 Oktober dan ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) pada 22 Oktober 2015, di Masjid Istiqlal Jakarta - Indonesia. 

Pemikiran KH. Hasyim Asy'ari 

Selain berjuang, KH. Hasjim Asy'ari semasa hidupnya juga menuangkan pemikirannya dengan mengarang berbagai macam kitab. Beberapa karya kitab tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  • Risalah Ahlis Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mauta wa Asyrathissa'ah wa baya Mafhumissunnah wal Bid'ah.
  • Al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayid al-Mursalin.
  • Adab al alim wal-Muta'alim fi maa yahtaju Ilayh al Muta'alim fi Ahwali Ta'alumihi wa ma Ta'limihi.
  • Al-Tibyan; fin-Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal-Aqorib wal-Ikhwan.
  • Muqadimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Kitab tentang pemikiran dasar tentang NU.
  • Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi-Mazhab al-A’imah al-Arbaah.
  • Mawaidz.
  • Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
  • Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat.

Beliau KH. Hasyim Asy'ari wafat tanggal 25 Juli 1947 dan disemayamkan di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Penutup

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai biografi tokoh KH. Hasyim Asy'ari Pendiri NU. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita untuk lebih mengenal kakek KH. Abdurrahman Wahid atau Gusdur.

Lihat Juga: Vector Art Wajah Gusdur Sang Guru Bangsa

Creative Inspiration

No comments: