Rekonstruksi Agama Humanis

Rouf Creative | Creative Graphic Design

Rekonstruksi Agama Humanis

Agama Humanis

Rekonstruksi Agama Humanis; Upaya Pembebasan Terhadap KetidakadilanDalam khasanah keislaman, diskursus keagamaan tetap menjadi pusat kajian yang hangat dan menarik untuk dikembangkan, yakni menjadikan agama sebagai sasaran yang empuk untuk dikritisi keabsahannya. Agama dipahami bukan sekedar sebuah doktrin atau wacana yang statis, rigid dan givenNamun agama dipahami sebagai sebuah realitas yang akan terus berubah sesuai dengan ruang dan waktu yang melingkupinya, karena tidak ada teks yang terlepas dari konteks. 

Oleh karenanya Kitab Suci sudah selayaknya dikritisi karena untuk melihat bagaimana esensi atau maksud diturunkannya ayat per ayatnya. Namun perlu disadari, memang bukan hal yang mudah untuk membangkitkan semangat berfikir kritis dan progresif di era sekarang ini. Karena tradisi pemikiran yang demikian sering dianggap menyimpang dari mainstream umat islam, dianggap kafir dan sesat, bahkan halal dibunuh. 

Berfikir Kritis dan Progresif 

Berfikir terbuka dalam kalangan umat islam memang merupakan hal yang baru, apalagi menyangkut dalam ranah keagamaan di tengah-tengah keberagamaan masyarakat yang masih  mengagungkan tradisi berfikir yang tekstual dan konservatif. Sehingga tak jarang dari kalangan tertentu serasa kebakaran jenggot ketika melihat agama mereka diotak-atik. 

Akibatnya, jika pemahaman tekstual tersebut masih juga dipertahankankan, agama hanya dianggap sebuah warisan yang antik dan tidak boleh disentuh, maka yang lahir hanya persepsi saling mengkafirkan, menyalahkan dan menyesatkan golongan yang tak sepaham. 

Namun demikian, bukanlah satu-satunya alasan untuk menyurutkan semangat kritisisme dikalangan anak-anak muda NU atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Mereka mengangggap agama bukanlah sesuatu yang statis, tidak berubah dan tidak boleh dikritisi, melainkan harus selalu kontekstual sehingga bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat. 

Bukankah agama memang diciptakan untuk menyelesaikan segala problemantika kehidupan manusia?. Oleh karena itu agama haruslah dipahami dengan baik dan benar, sehingga agama benar-benar berjalan sesuai dengan semangat kemanusiaan. Yakni, agama tranformatif yang membebaskan, membela kaum yang lemah dan tertindas. 

Baca Juga: Ketika Santri Mengkritik Agama

Agama Humanis

Tidak ada satu pun agama (teks-teks) yang terlahir dalam ruang dan waktu yang hampa, agama hadir tak lepas dari peran politik, social dan budaya yang menyelimutinya. Dengan demikian agama berperan besar dalam perubahan sosial. Ini membuktikan bahwa agama ternyata juga berdialog dengan zamannya, karena dengan berdialog inilah agama akan mampu menemukan signifikansinya di tengah masyarakat, dengan demikian agama dipercaya dapat mengubah realitas di luar agama, dan sebaliknya realitas di luarpun berpengaruh  terhadap agama. 

Karena agama dalam kehidupan masyarakat dapat menggambarkan realitas social, yakni eksistensi agama tak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Oleh karenanya sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga perlu dikembangkan lagi.

Agama (Islam) tidak lahir dalam komunitas tersendiri yang hanya bisa diatur menurut hukum komunitas yang mendiaminya saja. Akan tetapi agama haruslah terbuka bisa menerima pemikiran darimanapun, siapapun yang mengkajinya seiring dengan perubahan zamannya. Maka tak heran, jika agama sering kali memainkan peranan penting dalam realitas dan dinamika sosial, karena agama memiliki daya konstruktif dan transformatif dalam membangun tatanan kehidupan masyarakat, dengan kata lain agama mempunyai peran transformatif dan motivator bagi proses social cultural, ekonomi-politik.  Hal ini bisa terjadi karena sifat dogmatis agama yang seolah tidak mungkin salah dan terbuka untuk segala macam jenis interpretasi. 

Agama merupakan 'produk budaya' (al muntaj al tsaqati) (Nasr Hamd Abu Zaid). Agama dilahirkan di dunia ini lewat Muhammad SAW. Bukanlah merupakan suatu paket barang antik yang dipahat pada abad ke-VII yang hanya pantas dilihat dan diabadikan di museum, sehingga melahirkan anggapan masa lalu sebagai produsen dan  masa kini hanya sebagai konsumen. Umat sekarang seakan-akan hanya menerima paket instant (siap saji) yang disuguhkan oleh Tuhan dengan pesan sederhana “take it or leave it” . (Ulil Absar Abdala, 2006).

Kritik wacana agama berupaya membangun kesadaran kritis. Paling tidak kesadaran relasi antar agama, relasi gender, social–politik yang meliputi relasi individu, masyarakat, rakyat dan penguasa. Kesadaran kritis tersebut dapat dibangun ketika wacana keagamaan yang dominan dan cenderung legitimatif diubah menjadi wacana yang kritis, inklusif dan toleran. 

Interpretasi teks-teks keagamaan dalam wacana agama merupakan salah satu mekanisme yang sangat penting, karena teks-teks keagamaan tidak muncul begitu saja dari langit dalam ruang yang hampa kebudayaan, akan tetapi teks-teks keagamaan diciptakan oleh mufasir sesuai dengan tingkat pemikiran manusia yang tak terlepas dengan pergolakan social-politik dan budaya yang melingkupinya. 

Baca Juga: Demokrasi Dan Politik Islam Di Indonesia

Sejarah membuktikan bahwa doktrin keagamaan (teks-teks) seringkali dijadikan sebagai alat legitimatif yang efektif untuk kepentingan kekuasaan (missionaries agama) yang mengatas namakan kebenaran Tuhan. Yakni, agama menjadi sebuah komoditas kelompok-kelompok tertentu untu mencapai tujuan, misalkan saja demi kepentingan partai politik, mereka mengatasnamakan agama sebagai sebuah media untuk menarik simpatik masyarakat terhadap partai yang mereka usung. 

Oleh karena itu, setiap wacana atau interpretasi terhadap teks-teks agama, yang muncul selalu mempunyai relasi dengan kekuasaan dimana penafsir itu hidup, karena itu kebenaran suatu tafsir agama harus juga dilihat juga dalam relasi kuasanya. Dengan demikian, kritik wacana agama mempunyai asumsi kuat bahwa tidak ada tafsir tunggal atas agama.

Agama selain menjadi sumber etika dalam masyarakat, agama juga mempunyai potensi besar terhadap terjadinya konflik, baik antar agama maupun konflik internal agama. Agama juga bisa menjadi inspirator lahirnya sebuah konflik social masyarakat, yakni melalui teks-teks keagamaan secara eksplisit menanamkan nilai eksklusif, fanatisme, truth claim dan semangat berjihad. 

Ini menunjukkan bahwa ada semacam letupan-letupan yang ditimbulkan oleh agama, dan pemeluknya, khususnya agama wahyu (Reveled Religion) atau lebih sering popular dengan agama langit yang rentan terhadap konflik baik secara intern maupun antar umat beragama. Ajaran-ajaran yang tertuang dalam dalam teks-teks keagamaan itu secara eksplisit maupun implisit dapat memicu lahirnya konflik social di masyarakat.

Dengan demikian agama menyimpan sebuah paradoks, yakni di satu sisi agama merupakan jalan menuju keselamatan, cinta dan perdamaian. Namun di sisi lain, agama menjadi sumber penyebab kehancuran dan penderitaan umat manusia. Karena agama orang bisa saling mencintai, namun atas agama pula manusia bisa saling benci bahkan membunuh. 

Baca Juga: Wajah Islam Hibrida

Salah satu ideology keagamaan telah menjadi factor sentral kekerasan yang terjadi di belahan dunia. Teks-teks keagamaan sering kali jadikan legitimasi dalam setiap konflik kemanusiaan, banyak sekali tragedi kemanusiaan yang disemangati oleh agama. Salah satunya eksploitasi ayat-ayat al qur’an untuk melegitimasi tindakan kekerasan. 

Misalnya, legitimasi agama dalam aksi teror dan anarkisme yang di lakukakan sejumlah kalangan fundamentalis. Hal ini sekiranya segera didekontruksi kembali mengenai interpretasi terhadap teks-teks keagamaan agar lebih ramah dan santun, sehingga tidak terjebak pada penafsiran yang bersifat rigid.

Tidaklah heran, hampir semua agama pernah terlibat konflik dan kekerasan dengan agama lain dengan alasan “perang suci” dan “atas nama Tuhan”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam setiap agama mempunyai doktrin yang bersifat eksklusif. 

Mereka yang mengakui agama yang transcendental akan rela mengorbankan seluruh harta, jiwa dan raganya, bahkan melakukan hal-hal yang mungkin dianggap irasional sekalipun.

Creative Inspiration

No comments: